Thursday, September 29, 2011

KEPENTINGAN UMAT DALAM PEMILU 2004



Farid Wadjdi

Akankah pemilu 2004 bermanfaat untuk rakyat ? Jawabannyajelas beragam. Satu pihak pemilu 2004 akan banyak memberikan pengaruh kepadarakyat. Alasannya, dalam pemilu ini rakyat memilih langsung presidennya.Pastilah rakyat tidak akan memilih presiden yang mereka anggap akan merugikanmereka.

Pemilu 2004 juga akan memunculkan pemimpin yang kuat sebabdipilih langsung oleh rakyat. Berbeda dengan sebelumnya, dimana pemimpin munculhasil tawar menawar partai politik yang besar. Setelah itu semuanya mintajatah, dan mendikan kompromi ini menjadi senjata untuk memelihara kepentinganpartai.


Namun tidak sedikit pula yang pesimis terhadap pemilu 2004.Tidak ada banyak perubahan dari pemilu
2004, baik dari segi orang ataupunprogram.
Artinya, partai-partai besar sekarang seperti PDI-P ,Golkar, PPP , PKB, PAN dan PBB diduga tetap mendominasi. Sebab , dilihat darikesiapan dana, sumberdaya, pengalaman, partai-partai besar ini masihlah tetapunggul. Hingga saat ini, belum ada partai lain yang diduga bisa merubahkonstilasi diatas.

Kalau tidak jauh beda hasilnya, tentu saja orang-orangnyapun tidak jauh beda. Bahkan, politisi orde baru diperkirakan akan munculkembaliKalau orang-orangnya tidak jauh beda, tentusaja keperdulian mereka  ke rakyat juga tidak jauh beda, seperti yangmereka praktekkan selama ini. 

Benar bahwa pemilu ini akan menghasilkan pemimpin yang kuatsebab dipilih langsung oleh  rakyat. Tapimelihat calon presiden yang kuat, jelas tetap orang-orang dari partai lamaseperti Megawati, Amin Rais , Hamzah Haz. Atau politisi yang selama ini dikenalseperti Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Wiranto. Palingtidak ini tercermin dari hasil polling Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang menyimpulkanpemilu 2004 ini  diramalkan akan menjadipertarungan antara Megawati dan Amin Rais. (Republika, 4/12/2003)  Trackrecord politisi ini   pun sudahdiketahui umum. Dalam arti mereka bukanlah orang istimewa yang diharapkan bisamembawa perubahan besar untuk memperhatikan rakyat.

Apalagi kalau melihat realita kesadaran politik rakyatIndonesia. Tidak ada perkembangan berarti. Sebab, memang selama inipartai-partai yang ada jarang sekali mencerdaskan rakyatnya. Sehinggadiperkirakan rakyat akan memilih dengan didominasi oleh sikap emosional danpragmatis. Dalam kondisi begini,money politics seperti sering terjadi dalampemilihan lurah secara langsung  , bukanmustahil terjadi  saat pemilihan presidensecara langsung.

Demikianjuga kalau melihat tawaran program atau konsep yangdiajukan oleh partai-partai yang akan mengikuti pemilu 2004. Hampir tidak adabedanya dengan yang sebelumnya, untuk tidak dikatakan memang tidak punyakonsep. Paling-paling mengusung isu-isu lama yang lebih banyak retorikanya, sepertiisu KKN,Korupsi, reformasi, demokrasi dan lain-lain. Isu yang tidak pernahmereka wujudkan , saat mereka memerintah.

Apalagi  siapapun yangmemimpin akan tetap berjalan dengan sistem yang ada, selama belum terjadiperubahan sistem yang mendasar. Yakni sistem kapitalis yang dikenal korup danmenjadi sumber penderitaan rakyat. Sebab mereka pastilah tetap akan bergantungpada program ekonomi IMF, hutang luar negeri, investasi asing, yang justruselama ini merupakan pangkal penderitaan rakyat dibidang ekonomi. Sikap politikmereka , terutama terhadap AS misalnya, dipastikan juga tidak banyak berbeda.Mereka akan tetap tunduk, untuk mempertahankan kekuasaannya. Bagaimana denganposisi umat Islam, adakah manfaat pemilu ini ?


Kepentingan JangkaPendek



Ada beberapa kepentingan jangka pendek yang sering diungkapkenapa pemilu ini penting bagi umat Islam untuk diikuti, antara lain :(1)mencegah naiknya pemimpin sekuler; (2) mencegah munculnya hukum-hukum yangmerugikan umat (3) Melatih politisi Islam dan Memberikan Teladan

Alasan pertama, lebih kepada kekhawatiran mengingatpengalaman umat Islam selama ini, saat dipimpin oleh pemimpin dari kelompoksekuler. Umat islam menjadi kelompok mayoritas yang dipinggirkan. Tidak hanyaitu, seperti pengalaman saat dipimpin oleh Sukarno atau pada masa orde barudibawah pimpinan Suharto, tekanan kepada kelompok-kelompok Islam tidak sebatasdipinggirkan , tapi banyak tokoh-tokoh Islam yang dipenjara, disiksa, dandiintimidasi. Sebagian pihak menganggap, Megawati saat inipun memperlakukan halyang sama. Karenanya, dengan kemenangan partai Islam, akan mencegah munculnyapemimpin sekuler yang selama ini menindas umat Islam .

Alasan yang kedua, kalau umat Islam tidak ikut pemilu,artinya parlemen dan pemerintahan akan diisi oleh orang-orang sekuler.Kebijakan yang dihasilkan , diduga keras akan merugikan umat Islam. Kondisiseperti ini terjadi di masa orde Baru, disaat parlemen dan pemerintahandikuasai oleh kelompok sekuler.

Melihat dua alasan tadi, tampak jelas , bahwa alasan yangdigunakan adalah kemashlahatan (kemanfaatan) yang didominasi pertimbangan akal.Padahal dalam Islam, kemashlahatan seperti itu tidaklah bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan atau menghalalkansesuatu. Artinya, hukum syaralah  yangseharusnya dijadikan argumentasi. Dan dimana ada dalil syara disitu pasti adakemashlahatan. Bukan sebaliknya.

Tidaklah kemudian kelompok Islam atau parpol Islam dihalalkan melakukan kemaksiatan denganalasan kekhawatiran ditindas atau ditekan, atau khawatir muncul kebijakan yangmerugikan umat. Sikap seperti ini akan membuat parpol Islam bersikap kompromiterhadap penguasa yang ada, dan tidak berani bersikap terbuka terhadapkedzoliman penguasa yang ada.

Apa yang dicontohkan oleh Rosulullah adalah perkara yang jelas.Berbagai ancaman, intimidasi, bahkan pembunuhan yang menimpa terhadap pengikutRosulullah dan Rosul sendiri, tidaklah membuat Rosulullah kemudian berkompromidengan sistem yang ada dengan imbalan penguasa itu akan bersikap lunak.Rosullah dengan konsisten bersikap istiqomah dalam memegang teguh kebenaran Islam dan tidak menyimpang sedikitpundalam garis perjuangannya.

Padahal, kalau menggunakan logika yang digunakan olehsebagian kelompok Islam sekarang, Rosulullah saw pastilah memilih tawaran kekuasaanyang disampaikan oleh orang-orang kafir Quraisy, berkompromi demi menyelamatkanpengikutnya yang disiksa. Tapi Rosul tidak melakukan itu.

Secara fakta juga , dua argumentasi ini bisa diperdebatkankebenarannya. Tidak ada jaminan duduknya para anggota parpol Islam di parlemenatau dipemerintahan menjamin tidak adanya tekanan terhadap perjuangan Islamyang ingin menegakkan syariat Islam secara kaffah. Di Turki, misalnya, Partai Keadilan dan Pembangunan yangdisebut-sebut partai Islam sebagai ganti dari partai Raffah, malah menangkapipejuang-pejuang Islam yang ingin menegakkan syariat Islam  dengan menegakkan Daulah Khilafah. Demikianjuga untuk kasus Indonesia, adanya anggota parpol Islam  yang duduk diparlemen atau pemerintahan tidakbisa berbuat banyak, saat beberapa pejuang yang ingin menegakkan syariat Islam,ditahan dan ditangkapi, bahkan ada yang diculik.

Bisa dipahami, sebab parpol Islam itu , meskipun menguasaiparlemen dan pemerintahan seperti di Turki , tidak memiliki kekuasaan yangsesungguhnya. Tetap saja yang memiliki kekuasaan adalah pihak militer yangmenjadi pembela sekulerisme di Turki. Dalam kondisi seperti ini, parpol Islamakan dihadapkan pada dua pilihan, secara terbuka menentang sekulerisme yangberakibat mereka akan diturunkan secara paksa oleh kekuatan sekuler yang belumsadar. Atau mengikuti permainan dalam sistem sekuler untuk mengamankanposisinya. Meskipun harus mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Islam danbertentangan dengan Islam.

Ditambah tidak adanya dukungan yang nyata dari rakyat secarakeseluruhan yang memiliki kesadaran politik untuk memperjuangkan syariah Islam.Akan membuat posisi parpol Islam tetap lemah meskipun mereka mayoritas dudukdiparlemen atau pemerintahan.

Dengan demikian , hal sesungguhnya yang bisa mencegah adanyapeminggiran dan penindasan terhadap pejuang Islam adalah tegaknya sistem Islamitu sendiri yang didukung oleh pemilik kekuasaan yang sesungguhnya sepertimiliter dan dukungan rakyat. Bukan mayoritas atau tidak diparlemen atau pemerintahan.Selama tidak dalam sistem Islam yang didukung oleh rakyat dan pemilik kekuasaanyang nyata di tengah masyarakat, akan selalu muncul penindasan terhadap pejuangIslam .

Demikian juga munculnya hukum atau kebijakan yang merugikanumat Islam dan bertentang dengan hukum syara’ adalah buah dari sistem sekuleryang dipraktekkan. Artinya, selama dasar pengambilan keputusan bukan hukumsyara’, pastilah selalu akan muncul kebijakan yang merugikan umat Islam atauhukum yang bertentangan dengan syariat Islam.

Memang benar, dalam beberapa hal, terkesan sistem sekuleryang ada menampung aspirasi umat Islam. Seperti yang terjadi dalam RUUsisdiknas , dimana beberapa pasal yang sejalan dengan aspirasi umat Islamberhasil digolkan. Namun perlu dicatat, hukum yang digolkan itu pastilah dalamperkara yang parsial atau yang dianggap tidak banyak mempengaruhikeberlangsungan sistem sekuler yang ada. Dalam perkara-perkara yang urgen danmengancam sistem sekuler yang ada, pastilah tidak akan diterima. Tidakmengherankan kalau uu yang dikatakan merupakan aspirasi umat Islam tersebutbaru sebatas penggunaan kata taqwa dalam UU sisdiknas atau masalah pernikahan.Yang jelas tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap perubahan sistem kufuryang ada.

Dan perlu dicatat, kalaupun parlemen atau pemerintahanmenampung aspirasi umat Islam, bukanlah menjadi alasan untuk menghalalkan dudukdiparlemen atau  pemerintahan yangbertentangan dengan Islam. Sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT tidak akanpernah berubah meskipun kelihatan hal itu memberikan manfaat yang parsialterhadap umat Islam.  Seperti  tidaklah kemudian sistem demokrasi yangberdasarkan kedaulatan ditangan rakyat menjadi halal, karena sampai batastertentu, demokrasi memberikan kebebasan untuk berdakwah.


Sementara alasan ketiga juga patut dipertanyakanargumentasinya secara syari’I maupun fakta. Memang umat Islam harus bisamembuktikan dan memberikan teladan bahwa mereka mampu mengelola negara, tapibukan berarti mereka harus terlibat dalam sistem kufur yang ada. Rosulullahadalah contoh yang jelas, menolak tawaran kekuasaan orang-orang kafir Quraish,sebab kekuasaan itu masih tunduk kepada sistem jahiliyah yang ada. Bukankahkalau logikanya ingin memberikan contoh, melatih dan sebagainya,  Rosululloh akan meneriwa posisi jabatan itu.

Sebab adalah sangat jelas anggota parpol Islam, tidak akanpernah bisa memberikan teladan kepada umat saat mereka bermain dalam sistemkufur. Masuknya mereka kepada sistem kufur saja , menunjukkan mereka telahtidak memberikan tauladan yang baik kepada umat dengan melanggar syariat Allah.

Apalagi, sudah diketahui umum, anggotaparpol yang masuk ke dalam sistem justru sering terjebak dalam sistem tersebut.Seperti terlibat dalam money politic.Merekapun sering bungkam terhadap kezoliman penguasa dengan alasan koalisidengan partai penguasa atau untuk kepentingan kompromi. Merekapun kemudiansering membuat pernyataan yang berubah-ubah dan membingungkan umat , mengingatkompromi yang sudah dilakukan dengan partai-partai sekuler. Teladan itu hanyabisa diberikan oleh umat Islam kalau mereka berhukum pada hukum Islam dalamsistem Islam tentunya.

Kepentingan JangkaPanjang 


Alasan lain, kenapa pemilu dianggap bermanfaat bagi umatadalah untuk kepentingan jangka panjang, yakni menegakkan syariah Islam denganmengganti negara menjadi Daulah Islam (Negara Islam). Logika yang dipakaimemang cukup sederhana. Ikut pemilu, raih suara terbanyak untuk meraih kursiterbanyak, berikutnya ubah hukum dan negara menjadi Islam. Namun benarkahrealitanya seperti itu ? Tentu saja tidak. Ada beberapa persoalan yang dihadapiuntuk itu.

Pertama, meraihsuara terbanyak. Ini kendala pertama yang menimpa parpol Islam. Pengalamapemilu di Indonesia selama ini, parpol Islam tidak pernah meraih suaraterbanyak . Bahkan dimasa Islam ideologis masih kental (pemilu tahun 1955),partai-partai Islam masih kalah dibanding dengan partai nasionalis sekuler.Pada pemilu 1999 yang lalu, partai Islam kembali gagal meraih suara signifikan,tertinggal dibanding dengan partai nasionalis sekuler.

Meskipun baru sebatas polling, dalam pemilu 2004 nanti,hasilnya didugi tidak terlampau jauh beda. Berdasarkan polling yang dilakukanoleh Soegeng Sarjadi Syndicatedilihat dari pertarungan ideologi, hasil pemilu 2004 tidak akan berbeda jauhdengan pemilu 1955 dan 1999, dimana partai yang berideologi nasional dansekuler akan menang. Penyebabnya juga sama,partai Islam sulit melakukankoalisi(Republika, 4/12/2003)

Hasil ini tidak jauh beda dengan polling yang dilakukan olehLSI .Lepas setuju atau tidak dengan polling ini Karena hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terhadap 1976 orangdi seluruh provinsi di Indonesia -Nanggroe Aceh Darulsallam, menunjukkanpenurunan dukungan terhadap partai berlabel Islam. "Partai-partai berlabelIslam tidak memperoleh dukungan berarti," kata Denny J.A, Direktur LSI diJakarta, Selasa (18/11). (Tempo Interaktif, 18/11/2003)

Perlu dicatat, fenomena marginalisasi partai-partaiIslam  ini bukan hanya terjadi diIndonesia tapi hampir seluruh negeri-negeri Islam Pengecualian tentang iniadalah kemenangan FIS di Aljazair dan Partai Raffah di Turki. Namun, kemenanganitu sama-sama berakhir teragis, dengan alasan demokrasi kemenangan itudikebiri.


Kedua, benturandengan sistem sekuler. Ikutnya parpol Islam dalam pemilu selama ini, tentumerupakan ‘kebaikan’ yang diberikan sistem demokrasi. Kebaikan itu bukannyatanpa syarat. Parpol Islam tetap harus bermain dalam kerangka sistem demokrasiyang sekuler. Hal ini bisa dilihat dari syarat tetap menjadikan ideologisekulersekuler menjadi asas negara yang tidak boleh diubah. 

Konsekuensinya , parpol Islam itu tidak bisa merubah asasdan sistem demokrasi yang sekuler, meskipun suara mereka mayoritas. Hal iniadalah sangat wajar, sebab sistem ideologi apapun, pasti memiliki sistempencegahan terhadap berbagai pihak yang ingin merubah sistem tersebut. Sistemideologi apapun pasti memiliki fungsi mempertahankan sistem yang ada. Sehingga‘kebaikan’ sistem demokrasi ini berlaku, selama parpol atau kelompok yang adabermain dalam sistem demokrasi dan bukan untuk merubah sistem ini.  Dan penjaga-penjaga sistem demokrasi ini ,tidak akan membiarkan perubahan tersebut mengancam kepentingannya. Untuk itualasan yang sering diberikan : bertentangan dengan ideologi negara ataumengancam kepentingan nasional dan keamanan nasional.

Contoh yang jelas adalah yang pernah terjadi saat pemilu diAljazair, yang hampir saja dimenangkan oleh FIS dengan suara mayoritas.Kekhawatiran munculnya sistem Islam lewat kemenangan itu, mendorong penguasasekuler dan militer memberangus dan membatalkan kemenangan itu. Sebuah tindakanyang jelas-jelas tidak demokratis. Namun , negara-negara demokrasi sepertiPerancis, Inggris dan AS diam terhadap persoalan ini..

Media massa Inggris menunjukkan hal yang sama. Salah satusurat kabar berkomentar  bahwa militermempunyai hak untuk melakukan intervensi. Sebab FIS meskipun menang secarademokratis, dituduh akan meurbah kerangka sekuler menjadi Islam. Surat kabarterkemuka Inggris seperti indipendent berkemontar tentang hal ini :Kadang-kadang dibutuhkan tindakan yang tidak demokratis untuk melindungdemokrasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan presiden Aljazair pada waktu itu :“penghargaan demokrasi tidak berarti membiarkan penghancuran diri demokrasi”(lihat Khilafah Magazina volume 9 Issue 8April 1999)

Hal yang sama terjadi di Turki. Partai Raffah, yangsebenarnya sudah mengakui sekulerisme Turki saja terus ditekan bahkandibubarkan. Sebab , Partai ini dianggap membahayakan sekulerime Turki. Dan halini didukung oleh AS, seperti tampak dari pernyataan menlu AS Madeline Albrigt(saat pemerintahan Clinton) : “ Kami menegakan adalah sangat penting bagi Turkiuntuk melanjutkan sekulerisme, jalan demokrasi. Dan kita menghargai Tukri yangsecara fakta merupakan negara demokrasi yang sekuler” (Lihat Khilafah Magazine volume 7 June/July 1997)

Ketiga, benturandengan masyarakat yang tidak mendukung. Secara realita, tidaklah otomatisketika parpol Islam meraih suara mayoritas diparlemen , berarti rakyat akanmendukung saat mereka ingin merubah dasar dan aturan negara menjadi Islam.

Kondisi ini bisa terjadi, kalau parpol Islam menangmayoritas bukan karena mereka menawarkan negara dan aturan Islam dalam kampanyemereka. Artinya, rakyat memilih mereka bukan karena rakyat sadar bahwa parpolIslam itu bertujuan mengganti sistem sekuler yang ada menjadi sistem Islam atauparpol  Islam ini menjelaskan keburukandari sistem sekuler yang ada. , tapi karena karena isu-isu lain yang menarikhati masyarakat seperti moralitas, isu korupsi, kkn, yang tidak dikaitkandengan syariat Islam.

Selama kesadaran ditengah masyarakat tetap menganggap sistemsekuler sebagai sistem yang ideal yang harus dipertahankan, keinginan parpolIslam untuk merubah sistem sekuler itu menjadi sistem Islam akan mendapattantangan dari rakyat sendiri yang belum sadar. Bisa-bisa mereka menganggapwakil rakyat itu telah berkhianat kepada mereka, sebab telah menyalahgunakansuara yang mereka berikan untuk perkara lain. 

Sebab, berubah atau tidaknya sebuah sistem sangat ditentukanoleh kesadaran masyarakat tentang buruknya sistem yang ada dan kesadaran merekauntuk mengganti sistem yang rusak itu menjadi sistem yang baru. Oleh karenaitu, kalaupun parpol Islam ingin menjadikan pemilu ini sebagai sarana perubahanmenuju tegaknya negara Islam , mereka seharusnya secara terbuka menyerangsistem kufur yang ada dan menjelaskan secara gamblang kewajiban mendirikannegara dan aturan Islam. Sehingga muncul kesadaran umum ditengah masyarakat.Namun, sayang parpol Islam yang sekarang tidak memilih jalan itu. Ditambah lagisistem demokrasi tidak akan memberikan peluang untuk itu.

Lantas, siapa yang paling diuntungkan dengan pemilu ini ?Menarik kalau kita lihat besarnya bantuan Barat terutama AS untuk mensukseskanpemilu yang ada di negeri-negeri Islam. .Ini bisa menjelaskan, bahwa Baratmemiliki kepentingan yang besar terhadap pemilu di negeri-negeri Islam. Palingtidak ada beberapa kepentingan Barat :
1)                 mengokohkan demokratisasi : memperpanjang sistem yang batil,memberikan citra positif
2)                 memperkuat intervensi mereka lewat tokoh dan parpol yang didukung oleh Barat
3)                 menimbulkan suasana konflik; masyarakat, internalparpol, antar parpol;
4)                 menjauhkan umat dari perjuangan yang sebenarnya yaknikewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islam yang akan menerapkan hukum-hukumsyara secara Kaffah. Ummat akhirnya disibukkan oleh  perjuangan yang parsial seperti semata-mataperebutan kursi

Bukan BerartiApatis


Jelaslah bagi kita, bahwa pemilu 2004 ini tidak akanmemberikan banyak kemanfaatan untuk rakyat dan tentu saja umat Islam. Kecualipemilu ini memang dimanfaatkan untuk merubah sistem kufur yang ada menjadisistem Islam. Masalahnya,  sulit berharapparpol yang ada memperjuangkan itu. Sulit pula berharap sistem demokrasimemberikan peluang untuk itu. Namun bukan berarti kemudian kaum muslim menjadiapatis dalam masalah politik. Sebab, aktivitas politik adalah wajib bagi kaummuslim, kapanpun dan dimanapun dia berada.

Terjun dalam aktivitas politik, bukan berarti dengan caramenghalalkan secara. Sebab, dia juga harus melihat aktivitas politikberdasarkan sudut pandang yang khas , yakni Islam. Karena aktivitas politiknyajuga berdasarkan Islam. Sebagai contoh, tidak dikatakan melakukan aktivitaspolitik Islam yang benar kalau seseorang melakukannya lewat parlemen yangjelas-jelas tidak menjadikan Islam sebagai standar baik dan buruk. Tidak puladikatakan memiliki kesadaran politik Islam, kalau dalam perjuangannya dia tidakmenyerukan penegakan hukum-hukum Allah dan tidak secara terbuka mengungkapkanketidaksetujuannya terhadap hukum-hukum kufur yang anda dan bertekad untukmengubahnya menjadi hukum-hukum Islam.

Karena itu, hanya aktivitas politik yang dilakukan olehRosulullah yang harus dijadikan pedoman yang ingin terjun dalam aktivitaspolitik. Dimana metode yang menonjol adala selalu mengkaitkan pengaturanurusan-urusan umat dengan hukum-hukum Islam . Beberapa aktivis politik Rosullahantara lain :
1.      Membinaumat dengan pemikiran dan hukum-hukum Islam sehingga terjadi perubahanpemikiran di tubuh umat
2.      Menyerangide-ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang rusak di tengah masyarakat, membongkarkepalsuaannya dan pertentangannya dengan Islam . Dengah demikian umat akanmenolak hukum-hukum tersebut dan mengantikannya dengan sistem Islam
3.      Membongkarkedzoliman dan kebejatan penguasa-penguasa yang ada ditengah-tengah umat .Rosullah saw menyerang Abu Jahal dan Abu Lahab dengan mengungkap kedzoliman danpenghianatannya terhadap umat
4.      Mendatangielit-elit politik dari berbagai kabilah yang berpengaruh , mengajak merekamasuk Islam dan agar mereka menyerahkan kekuasaan kepada Islam . Dengandemikian hukum-hukum Islam bisa ditegakkan lewat kekuasaan.

Kesimpulan


Aktivitas politik muslim haruslah bermuara pada tiga perkarapenting yang menjadi kunci perubahan : pembentukan kader yang ideologis,membangun kesadaran masyarakat, dan dukungan kelompok dan  tokoh-tokoh terkemuka yang memiliki kekuatandi masyarakat. Inilah yang paling penting untuk dilakukan. Jadi tidak adahubungan yang signifikan dengan ikut pemilu atau tidak. Inilah kuncikeberhasilan tegaknya Daulah Islam yang akan menerapkan hukum-hukum syara’secara kaffah dan menyeluruh.  Sekaligus,hal ini akan memberikan perlindungan yang nyata bagi umat Islam terhadapkebijakan yang merugikan mereka.  

0 comments:

Post a Comment

Sample Text

Social Profiles

Arsip Blog

Pengikut

Guest Counter

Follow by Email

Powered by Blogger.

Ads 468x60px

Popular Posts

Blog Archive

About

Featured Posts Coolbthemes