Wednesday, October 19, 2011

PENGERTIAN DAN PERKEMBANGAN TEORI PEMBELAJARAN


A. Pengertian,pengajaran dan pembelajaran

Menurut paham konvensional, pendidikan dalam arti sempit diartikan sebagaibantuan kepada anak didik terutama pada aspek moral atau budi pekerti,sedangkan pengajaran diartikan sebagai bantuan kepada anak didik dibatasi padaaspek intelektual dan ketrampilan. Bila dilihat dari sejarahperkembangan ilmu pendidikan di Indonesia,kita mengenal paedagogiek, didaktik dan metodik. Ketiga istilah tersebut sangaterat hubungannya,paedagogiek = ilmu pendidikan. Bagaimanapendidikan dilakukan disekolah, orang memerlukan didaktik, baik bersifat umummaupun yang bersifat khusus atau disebut metodik. Dengan demikian konsep pembelajaran danpengajaran adalah tergolong dalam ilmu didaktik biarpun mempunyai orientasiyang berbeda. Paedagogiek, didaktik dan metodik memuat prinsip-prinsip,kaidah-kaidah yang mengikat pendidik/guru dalam memberi bantuan secara normatifmaupun teknis kepada anak didik. Tetapi dewasa ini para ahli cenderung tidakmembedakan antara arti pendidikan (education) dan pengajaran/pembelajaran(instruction). Bahkan menurut Crow and Crow pendidikan diartikan sebagai prosesdimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar.Disini digambarkan bahwa dalam proses pendidikan itu titik berat terletak padapihak anak didik yaitu dalam pendidikan akan terjadi proses belajar yangmerupakan interaksi dengan pengalaman-pengalamannya.

Pendidikan, pengajaran dan pembelajaran mempunyai hubungankonseptual yang tidak berbeda, kalaupun dicari perbedaannya pendidikan memilikicakupan yang lebih luas yaitu mencakup baik pengajaran maupun pembelajaran, danpengajaran merupakan bagian dari pembelajaran.

B. Hubungan teori belajar dan pembelajaran

Teori belajar adalah konsep-konsep dan prinsip-prinsipbelajar yang bersifat teoritis dan telah teruji kebenarannya melaluieksperimen. Teori belajar itu berasal dari teori psikologi dan terutamamenyangkut masalah situasi belajar. Sebagai salah satu cabang ilmu deskriptif,maka teori belajar berfungsi menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana prosesbelajar terjadi pada si belajar. Karena para pakar psikologi mempunyai sudutpandang yang berbeda-beda dalam menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana belajaritu terjadi, maka menimbulkan beberapa teori belajar seperti teoribehavioristik, kognitif, humanistik, sibernetik dan sebagianya.
Teori pembelajaran tidak menjelaskan bagaimana prosesbelajar terjadi, tetapi lebih merupakan implementasi prinsip-prinsip teoribelajar dan berfungsi untuk memecahkan masalah praktis dalam pembelajaran. Olehkarena itu teori pembelajaran selalu akan mempersoalkan bagaimana prosedurpembelajaran yang efektif, maka bersifat preskriptif dan normatif. Teoripembelajaran akan menjelaskan bagaimana menimbulkan pengalaman belajar danbagaimana pula menilai dan memperbaiki metode dan teknik yang tepat. Teoripembelajaran yang demikian itu memungkinkan guru untuk :
(1) Mengusahakan lingkungan yang optimal untuk belajar
(2) Menyusun bahan ajar dan megurutkannya
(3) Memilih strategi mengajar yang optimal dan apaalasannya
(4) Membedakan antara jenis alat AVA yang sifatnya pilihandan AVA lain yang sifatnya esensial untuk membelajarkan para siswa.
Demikian halnya teori belajar yang bersifat deskriptifitu, akan mampu menjelaskan, memprediksi dan mengontrol peristiwa belajar.Sehingga prinsip-prinsip dan hukum belajar akan dapat dimanfaatkan dalam prosespembelajaran. Maka teori belajar tertentu dengan sendirinya akan berimplikasipada pembelajaran tertentu pula atau tergantung dari sudut pandang mana prosesbelajar itu terjadi. Dengan demikian jelaslah bahwa terdapat hubungan yangsangat erat antara teori belajar dengan teori pembelajaran.

C. Pengertian dan prinsip-prinsip pembelajaran

Pembelajaran terjemahan dari kata “instruction” yangberarti self instruction (dari internal) dan external instruction (darieksternal). Pembelajaran yang bersifat eksternal antara lain datang dari guruyang disebut teaching atau pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifateksternal prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadiprinsip-prinsip pembelajaran. Sesuatu yang dikatakan prinsip biasanya berupaaturan atau ketentuan dasar yang bila dilakukan secara konsisten, sesuatu yangditentukan itu akan efektif atau sebaliknya. Prinsip pembelajaran merupakanaturan/ketentuan dasar dengan sasaran utama adalah perilaku guru. Pembelajaranyang berorientasi bagaimana perilaku guru yang efektif, beberapa teori belajarmendeskripsikan pembelajaran sebagai berikut:
(1) Usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkandengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan)dengan tingkah laku si belajar. (Behavioristik)
(2) Cara guru memberikan kesempatan kepada si belajaruntuk berpikir agar memahami apa yang dipelajari. (Kognitif)
(3) Memberikan kebebasan kepada si belajar untuk memilihbahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.(Humanistik)
Sumber prinsip-prinsip pembelajaran :
1. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori behavioristik
Pembelajaran yang dapat menimbulkan proses belajar denganbaik bila:
a. Si belajar berpartisipasi secara aktif
b. Materi disusun dalam bentuk unit-unit kecil dandiorganisir secara sistematis dan logis
c. Tiap respon si belajar diberi balikan dan disertaipenguatan (Hartley&Davies, 1978)

2. Prinsip pembelajaran bersumber dari teori kognitif

Reilley & Lewis (1983) menjelaskan 8 prinsippembelajaran yang digali dari teori kognitif Brunner dan Ausuble, pembelajaranakan lebih bermakna (meaningfull learning) apabila:
a. Menekankan akan makna dan pemahaman
b. Mempelajari materi tidak hanya proses pengulangantetapi perlu disertai proses transfer.
c. Menekankan adanya pola hubungan
d. Menekankan pembelejaran prinsip dan konsep
e. Menekankan struktur disiplin ilmu dan struktur kognitif
f. Obyek pembelajaran seperti apa adanya dan tidakdisederhanakan dalam bentuk eksperimen dalam situasi laboratoris.
g. Menekankan pentingnya bahasa sebagai dasar pemikirandan komunikasi
h. Perlunya memanfaatkan pengajaran perbaikan yang lebihbermakna.

3. Prinsip pembelajaran dari teori humanisme

Belajar adalah bertujuan memanusiakan manusia. Anak yangberhasil dalam belajar, jika ia dapat mengaktualisasi dirinya dengan lingkunganmaka pengalaman dan aktivitas belajar merupakan prinsip penting dalampembelajaran humanistik.
4. Prinsip pembelajaran dalam rangka pencapaian ranahtujuan

a. Prinsip pengaturan kegiatan kognitif
Pembelajaran hendaknya memperhatikan bagaimana mengaturkegiatan kognitif yang efisien.
b. Prinsip pengaturan kegiatan Afektif
Pembelajaran pengaturan kegiatan afektif perlumemperhatikan dan mengaplikasikan 3 pengaturan kegiatan afektif, yaitu faktor ”conditioning”,behavior modification dan human model.
c. Prinsip pengaturan kegiatan psikomotorik
Pembelajaran pengaturan kegiatan psikomotorik mementingkanfaktor latihan, penguasaan prosedur gerak-gerik dan prosedur koordinasi anggotabadan untuk itu diperlukan pembelajaran fase kognitif.

5. Prinsip pembelajaran konstruktivisme (Teorikontemporer)

Belajar adalah proses aktif si belajar dalam mengonstruksiarti, wacana, dialog, pengalaman fisik dalam proses belajar tersebut terjadiproses asimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang sudahdipelajari. Prinsip yang nampak dalam pembelajaran konstruktivisme adalah:
a. Pertanyaan dan konstruksi jawaban siswa adalah penting
b. Berlandaskan beragam sumber informasi materi dapatdimanipulasi para siswa
c. Guru lebih bersikap interaktif dan berperan sebagaifasilitator dan mediator bagi siswa dalam proses belajar-mengajar.
d. Program pembelajaran dibuat bersama si belajar agarmereka benar-benar terlibat dan bertanggung jawab (konstrak pembelajaran)
e. Strategi pembelajaran, student-centered learning,dilakukan dengan belajar aktif, belajar mandiri, koperatif dan kolaboratif.

6. Prinsip pembelajaran bersumber dari azas mengajar(Didaktik)

Azas-azas mengajar yang dikemukakan dua ahli pendidikanyang berasal dari Belanda dan Amerika Serikat yaitu Mandingers dan Mursell.
a. Mandingers
(1) Prinsip aktivitas mental
Belajar adalah aktivitas mental, oleh karena itupembelajaran hendaknya dapat menimbulkan aktivitas mental. Tidak hanyamendengar, mencamkan dan sebagainya tetapi lebih menyeluruh baik aspekkognitif, efektif maupun psikomotorik. Pendekatan CBSA dikatakan sangat sesuaidengan prinsip aktivitas mental.
(2) Prinsip menarik perhatian
Bila dalam belajar mengajar para siswa penuh perhatiankepada bahan yang dipelajari, maka hasil belajar akan lebih meningkat sebabdengan perhatian, ada konsentrasi, pada gilirannya hasil belajar itu akan lebihberhasil dan tidak lekas lupa.
(3) Prinsip penyesuaian perkembangan anak
Anak akan lebih tertarik perhatiannya bila bahan pelajarandisesuaikan dengan perkembangan subyek belajar, prinsip ini juga sudahdikemukakan oleh John Amos Comenius.
(4) Prinsip Appersepsi
Prinsip ini memberikan petunjuk bahwa kalau mengajar guruhendaknya mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan apa yang sudahdiketahui. Dengan cara tersebut subyek belajar akan lebih tertarik sehinggabahan pelajaran mudah diserap.
(5) Prinsip peragaan
Prinsip peragaan memberikan pedoman bahwa dalam mengajarhendaknya digunakan alat peraga. Dengan alat peraga proses belajar mengajartidak verbalistis.
(6) Prinsip aktivitas motoris
Mengajar hendaknya dapat menimbulkan aktivitas motorikpada subyek belajar. Belajar yang dapat menimbulkan aktivitas motorik seperti,menulis, menggambar, melakukan percobaan, mengerjakan tugas latihan, akanmenimbulkan kesan dan hasil belajar yang lebih mendalam.
(7) Prinsip motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Makinkuat motivasi seseorang dalam belajar makin optimal dalam melakukan aktivitasbelajar. Dengan kata lain intensitas proses pembelajaran sangat ditentukan olehmotivasi. Dalam mengimplikasikan prinsip ini guru dapat melakukan:
a. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan anak
b. Menghubungkan pelajaran dengan pengalaman anak
c. Memilih berbagai metode mengajar yang tepat.
Prinsip-prinsip tersebut diatas dalam pelaksanaannyahendaknya dilakukan secara integral. Hal itu dapat dijelaskan bahwa belajaryang berhasil adalah bila anak dalam melakukan belajar berlangsung secaraintensif dan optimal sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang lebihbersifat permanent.

b. Menurut JL Marsell
(1) Prinsip Konteks
Guru menciptakan bermacam-macam hubungan dengan bahanpelajaran. Caranya dengan mengaitkan materi bahan pelajaran dengan konteksnyadalam arti hubungan sesama konsep, hubungan konsep dengan fakta, konsep denganguna/fungsi dan sebagainya.
(2) Prinsip Fokus
Guru dalam membahas dan menjelaskan materi suatu pokokbahasan tertentu perlu ada materi poko bahasan sebagai pusat pembahasan.
(3) Prinsip Sekuens
Materi pengajaran hendaknya disusun secara urut sistematisdan logis sehingga mudah dipelajari. Urutan bahan pelajaran itu sendirihendaknya memberikan kemudahan siswa dalam kegiatan belajar.
(4) Prinsip Evaluasi
Prinsip evaluasi menekankan guru dalam mengajar tidakboleh meninggalkan kegiatan evaluasi. Evaluasi merupakan kegiatan terintegrasidalam pelajaran. Kegiatan evaluasi berfungsi mempertinggi efektivitas belajar,karena dapat mendorong siswa belajar dan memungkinkan guru untuk memperbaikicara mengajarnya. Evaluasi itu dapat dilakukan secara tertulis, lisan maupundalam bentuk “assessment”.
(5) Prinsip Individualisasi
Guru dalam mengajar memperhatikan adanya perbedaanindividu para siswa. Siswa sebagai individu adalah berbeda-beda dilihat dari segimental, seperti intelegensi, bakat, minat dan sebagainya. Berbeda dengankecenderungan misalnya ada siswa cenderung lebih baik pada bidang estetikatetapi mungkin kurang baik pada matematika dan sebagainya. Perbedaan individutersebut berimplikasi dalam pemberian pelayanan belajar, seperti bimbinganbelajar, tugas-tugas dan sebagainya.
(6) Prinsip Sosialisasi
Prinsip sosialisasi menekankan guru dalam mengajarhendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang menimbulkan adanya salingkerja sama antar siswa, kerja sama dalam mengatasi masalah belajar, sepertimenyelesaikan tugas, belajar kelompok dan sebagainya. Cara belajar seperti iniakan memperoleh dua keuntungan, yaitu:
a. Dapat membina dan mengembangkan kepribadian terutamasikap demokrasi
b. Pengetahuan anak akan bertambah kokoh sebab dalamproses belajar akan terjadi saling menerima dan memberi.

D. Perkembangan teori pembelajaran
Keberadaan pembelajaran dalam arti pengajaran sebenarnyabersamaan dengan keberadaan profesi guru, yaitu sejak kedua konsep tersebutdiakui keberadaannya oleh masyarakat. Pada waktu itu ilmu pendidikan masihbernaung dalam ilmu filsafat. Pada waktu itu yang dikembangkan oleh parafilosof adalah pengetahuan tentang peranan guru, fungsi pikiran dan hakekatpengetahuan. Pengembangan yang mereka lakukan dengan mengajukan pertanyaan, apapengetahuan itu, bagaimana adal mulanya? Jawaban pertanyaan itu akan menggiringsecara sistematis mengenai pengetahuan belajar. Salah satu pandangan tentangbelajar dikemukakan oleh Plato (427-327 SM), ia (faham idealisme) melukiskanbahwa pikiran dan jiwa sebagai hal yang sifatnya dasar bagi segala sesuatu yangada. Maka belajar dilukiskan sebagai pengembangan oleh pikiran berupa idea yangbersifat keturunan. Dari pandangan itu Plato mengenalkan konsep pembelajaran:“disiplin mental” melalui studi matematika dan bahasa.
Bagaimana perilaku guru dalam melakuakan pembelajaran,pada waktu itu belum mendapat dukungan psikologi empiris, tetapi lebih dukungandari pemikiran filsafat. Filosof Sokrates, mengenalkan teori pembelajaranmetode “mencari tahu” dengan tanya jawab.
Seiring dengan perkembangan filsafat empirisme (realisme),yang mendewakan pengalaman, mempengaruhi munculnya psikologi empirisme.Psikologi empirisme menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuanyang diperoleh melalui pengamatan indera bukan dari berpikir seperti yangdinyatakan oleh kaum rasionalisme. Tokoh filsafat empirisme ini antara lainFrancis Bacon, John Locke dan sebagainya. Karena pengaruh kaum empirisme, JohnAmos Comenius (1592-1671), mengembangkan prinsip pembelajarn berupa.Pembelajaran berupa merupakan reaksi dari pembelajaran verbalisme. Prinsippembelajaran berupa akhirnya melahirnya azas-azas didaktik yang pada tahun60-an, di Indonesia sangat terkenal dengan azas keperagaan.
Dengan psikologi empiris memunculkan teori psikologiunsur, teori daya, teori gestald dan sebagainya. Seiring dengan berkembangnyaaliran empirisme para pengikut psikologi empirisme aktif melakukan eksperimenguna menguji dan mempertahankan teori-teorinya. Akhirnya teori-teori tersebutjuga diterapkan dalam pendidikan sebagai prinsip pembelajaran. Sebagai contohHerbart (1776-1841) berpendapat bahwa perasaan, keinginan, keputusan kemauanadalah keadaan istimewa yang terjadi karena bertemunya tanggapan sebagai unsurterkecil dari jiwa (kesadaran) seseorang. Bertemunya tanggapan-tanggapanmenurut hukum-hukum asosiasi. Maka untuk membentuk kemauan susila (kepribadian)perlu mengingat tanggapan-tanggapan dan menghubungkannya melalui hukum asosiasi.Teori pembelajaran yang demikian itu disebut pendidikan intelektalisme Herbart.Dalam pengembangan psikologi modern khususnya dibidang psikologi belajar munculteori belajar behavioristik dengan tokoh Thorndike, Watson, Guthrie, Skinnerdan lain-lain. Teori belajar behavioristik (Skinner) menimbulkan teoripembelajaran Pengajaran berprogram, Mastery learning. Pengembangan psikologiGestald melahirkan teori belajar kognitif dengan tokoh Piaget, Brunner, Ausabledan lain-lain. Teori kognitif pun, menimbulkan teori pembelajaran sepertiPembelajaran konsep, Advance Organizer dan sebagainya. Perkembangan teoribelajar pada abad 21, ditandai munculnya teori konstrukivisme, yang menimbulkanteori pembelajaran baru seperti pembelajaran strategi kognitif, konstruktivismedan belajar mandiri. Secara garis besar kejadian dibidang perkembangan teoribelajar menunjukkan bahwa perkembangan teori pembelajaran berkaitan denganperkembangan teori belajar.


0 comments:

Post a Comment

Sample Text

Social Profiles

Arsip Blog

Pengikut

Guest Counter

Follow by Email

Powered by Blogger.

Ads 468x60px

Popular Posts

Blog Archive

About

Featured Posts Coolbthemes