Monday, July 4, 2011

SENI DALAM PANDANGAN AJARAN ISLAM



Nilaidan makna seni
Formulasi seniyang terungkap dalam bentuk yang nyata dan sangat inderawi, dalam
perspektifmasyarakat awam seringkali “hanya” dimasukkan dalam kategori menghibur,
danmerupakan pelengkap dari sebuah sisi kehidupan sosial bermasyarakat. Artinyabisa
ada danbisa tidak usah ada, bila dikaitkan dengan nilai-nilai kehidupan modern yang
sering diasosiasikandengan hal-hal yang harus efektif dan efisien, serta jauh dari pernikpernik
yangidentik dengan apa yang disebut dengan pemborosan. Bahkan, pernah suatu
saat padatahun 1997 di sebuah desa di Eretan Pamanukan, seorang kuwu dengan bangga
menyatakanbahwa di wilayahnya tak lagi ada kesenian. Di sini sang kuwu mencoba
menerjemahkanslogan “efektif dan efisien” dengan tak memberi kesempatan adanya
sebuahkehidupan kesenian di wilayahnya. Kita semua tahu bahwa tahun itu adalah awal
darikrisis multidimensi di mana soal perut menjadi “satu-satunya“ prioritaspemecahan
masalahyang kemudian berdampak besar pada munculnya sikap ironis dari seorang
kuwu diatas.

Hal diatas tidaklah seutuhnya bisa dipersalahkan. Bahkan di masyarakat modern
sekalipun,di Amerika misalnya, ada seorang teman yang tidak mau dititipi televisi di
rumahnyasekaitan dengan alasan yang sama, yaitu efisiensi waktu. Ia tak bisa produktif
menulisnovel, yang notabene juga karya seni, karena waktunya akan banyak tersita
untuknongkrong di depan televisi menikmati karya-karya film mutakhir yang ditawarkan
agendanyaoleh sang pemilik televisi. Di sini karya seni memang berkaitan dengan waktu
luang yangharus disediakan oleh seseorang untuk menikmatinya, dan bagi masyarakat
tradisionaltertentu, waktu luang yang dalam perspektif mereka kadang juga disebut
denganwaktu sakral, memang kemudian ditetapkan justru untuk kebutuhan terlaksananya
sebuahperistiwa seni.
Kebutuhanakan terselenggaranya sebuah peristiwa seni/kesenian memang sangat
beragamseiring dengan keragaman bentuk seni tersebut. Bahkan dalam kehidupan
sehari-haripun kita sudah didera dengan tampilan pop art yang mengejawantah dalam
berbagai billboardiklan yang terserak di mana-mana. Ambil contoh penciptaan citra
tentangproduk minuman Coca Cola yang maknanya kemudian berkembang berlipat-lipat
dalamberbagai perspektif kritis serta merujuk pada permasalahan keremajaan,
hedonisme,Amerika, modernitas, imperialisme kultural, dsb. (Berger, 2006: 49).
Kekuatanmakna citrawi dari produk tersebut ternyata sangat berpengaruh pada gaya
hidupremaja kota yang tak jauh dari pernik-pernik ubarampe kegiatan yang kemudian
menjadiinheren dengan pencitraan produk tersebut.
Representasicitrawi yang terjadi pun juga beragam pula; dewasa ini ada
kecenderungandunia ipteks mendominasinya menjadi dunia representasi konseptual dan
abstrakatas realitas. Realitas yang kompleks yang amorf diformulasikan dalam sebuah
fenomenahiperelis yang memukau; sebuah copy lebih indah dari aslinya. Seni, yang
memangmerupakan produk persentuhan pengalaman pribadi seorang seniman dengan
realitaskehidupan di sekitarnya, bisa mengalamai transformasi nilai dan makna melalui
sebuahproses baru yang ditunjang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu
bagaimana dengandinamika komunal yang masih kental dengan ekspresi kolektif di
masa lalu.Di sinilah uniknya. Masih banyak bentuk formulasi seni yang belum disentuh
baik dalamjelajah perwilayahan tertentu yang bersifat khas maupun dalam spesifikasi
wilayahyang ditengarai oleh keterbukaan kontak ruang antar etnis, baik sebelum maupun
sesudahadanya realita deteritorialisasi, h realita yang menafikan keterbatasan ruangdan
waktudalam dunia virtual.

0 comments:

Post a Comment

Sample Text

Social Profiles

Pengikut

Guest Counter

Powered by Blogger.

Ads 468x60px

Popular Posts

About

Featured Posts Coolbthemes